Test Footer

LightBlog

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tuesday, January 15, 2013

Sulawesi Tengah

Kebudayaan Masyarakat Sulawesi Tengah




♣ Asal mula penduduk yang mendiami daerah Sulawesi Tengah dari tradisi lisan di kecamatan Banawa, kabupaten Donggala di peroleh cerita yang berbentuk mitos legendaris yang mengandung unsur-unsur pengaruhnya agama islam. Menurut mitos tersebut asal nenek moyang mereka dari tanah sanggamu (tanah senggama). Tanah sanggamu terdiri atas dua buah genggam tanah, satu pria dan satu wanita. Mula-mula Tuhan menciptakan dari segenggam tanah seorang laki-laki yang bernama Mulajadi dan segenggam lainnya seorang wanita yang bernama Jaruantanah, yang belum memiliki alat kelaminsempurna. Nanti Mulajadi lah yang membantu menyempurnakan alat kelaminnya dengan menggunakan tulang rusuk kirinya, lalu mereka menjadi suami istri. Dua orang inilah yang menurut cerita itu menurunkan penduduk atau penghuni Sulawesi Tengah.
Para orang tua pemberi informasi di atas masih menyimpan dan menggenggam tanah tersebut yang di peroleh dari warisan turun-temurun sebagai benda pusaka keramat. Pada umumnya yang menyimpan tanah atau batu (disebut batu karena telah lamanya penyimpanan tanah sehingga mengeras menyerupai dua buah batu) tersebut merupakan keturunan dari penguasa-penguasa kerajaan yang terbilang sesepuh.
Di pantai timur propinsi Sulawesi Tengah tepatnya di teluk Tomini di jumpai suku bangsa yang bahasanya sedikit lain dari bahasa Ledo dan bahasa Poso (Bare’e). mereka itu di namakan suku Tomini yang terdiri atas dua suku yaitu suku Tialo dan suku Lauje. Pada masyarakat ini di temui satu kepercayaan bahwa asal mula kejadian hidup ini ialah di suatu tempat di atas Pegunungan Palasa bernama Lembo Dayoan. Asal kejadiannya menurut cerita karena pertemuan langit dan bumi. Karena banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat Gorontalo. Di bagian timur pulau Sulawesi, juga terdapat pengaruh kuat Gorontalo dan Manado, terlihat dari dialek daerah Luwuk, dan sebaran suku Gorontalo di kecamatan Bualemo yang cukup dominan.
Ada juga pengaruh dari Sumatera Barat seperti nampak dalam dekorasi upacara perkawinan. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman Hindu. Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu, Palu, Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik spesial yang bermotif Bali, India dan Jepang masih dapat ditemukan. Sementara masyarakat pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak dipengaruhi suku Toraja, Sulawesi Selatan. Meski demikian, tradisi, adat, model pakaian dan arsitektur rumah berbeda dengan Toraja, seperti contohnya ialah mereka menggunakan kulit beringin sebagai pakaian penghangat badan.
Rumah tradisional Sulawesi Tengah terbuat dari tiang dan dinding kayu yang beratap ilalang hanya memiliki satu ruang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau aula yang digunakan untuk festival atau upacara, sedangkan Tambi merupakan rumah tempat tinggal. Selain rumah, ada pula lumbung padi yang disebut Gampiri. Buya atau sarung seperti model Eropa hingga sepanjang pinggang dan keraba semacam blus yang dilengkapi dengan benang emas. Tali atau mahkota pada kepala diduga merupakan pengaruh kerajaan Eropa. Baju banjara yang disulam dengan benang emas merupakan baju laki-laki yang panjangnya hingga lutut. Daster atau sarung sutra yang membujur sepanjang dada hingga bahu, mahkota kepala yang berwarna-warni dan parang yang diselip di pinggang melengkapi pakaian adat. {wikipedia}



Kesenian Masyarakat Sulawesi Tengah



♦ Musik dan tarian di Sulawesi Tengah bervariasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrume seperti suling, gong dan gendang. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai bagian ritual keagamaan. Di wilayah beretnis Kaili sekitar pantai barat – waino – musik tradisional – ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak tarian yang berasal dari kepercayaan keagamaan dan ditampilkan ketika festival. Tari masyarakat yang terkenal adalah Dero yang berasal dari masyarakat Pamona, kabupaten Poso dan kemudian diikuti masyarakat Kulawi, kabupaten Donggala. Tarian dero khusus ditampilkan ketika musim panen, upacara penyambutan tamu, syukuran dan hari-hari besar tertentu. Dero adalah salah satu tarian dimana laki-laki dan perempuan berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Tarian ini bukan warisan leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama pendudukan jepang di Indonesia ketika Perang Dunia II.
Di Sulawesi Tengah ini pengaruh seni kebudayaan asing dapat ditemukan yang berasal dari orang barat. Pengaruh kebudayaan asing adalah pengaruh kebudayaan yang datang dari luar, maka seiring dengan datangnya pengaruh ajaran islam, bidang kebudayaannya pun ikut mendapat pengaruh kebudayaan islam contohnya dalam seni membangun tempat ibadah atau masjid, dalam tata krama pergaulan, kesenian dan sebagainya. Juga pengaruh dari orang Bugis Makassar ikut memperkaya perkembangan kebudayaan di Sulawesi Tengah seperti dalam tata pemerintahan, bangunan rumah, adat kebiasaan, nama dan cara orang berpakaian, masakan dan sebagainya.
Begitu pula dengan datangnya ajaran islam yang di bawa oleh tokoh Datuk Karama dari Minangkabau ikut pula memperkaya kebudayaan kesenian di Sulawesi Tengah khususnya di lembah Kaili, pengaruh kebudayaan minang dalam bentuk nama seperti Ince, Dato. Alat kesenian seperti kakula, pemakaian panji dalam orang-orangan pada upacara adat, masakan, dan sebagainya.


Bahasa dan Tulisan yang di pakai Masyarakat Sulawesi Tengah





Gambaran umum terntang bahasa
Di daerah Sulawesi tengah dikenal cukup banyak bahasa daerah yaitu bahasa Kaili, Tomini, Pamona, Bada, Napu, Pipikoro, Mori, Toli-Toli, Buol, Saluan, Balantak, dan bahasa daerah Banggai. Tetapi diantara pemakai bahasa-bahasa daerah tersebut sebagian besar dapat saling mengerti satu sama lain.

Mengenai hubungan dengan bahasa tetangga juga saling mempengaruhi, hal ini dapat dilihat bahwa antara bahasa-bahasa yang dikenal di daerah ini dengan bahasa-bahasa di Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja) ada persamaan kata-kata. {Adat Istiadat Daerah Sulawesi Tengah, Proyek Penelitian dan Pencatatan Departemen Pendidikan, 1977/1978: 22-23}


Agama Masyarakat Sulawesi Tengah



Penduduk Sulawesi Tengah sebagian besar memeluk agama Islam. Tercatat 72.36% penduduk memeluk agama Islam, 24.51% memeluk agama Kristen dan 3.13% memeluk agama Hindu dan Budha. Islam disebarkan di Sulawesi Tengah oleh Datuk Karamah, seorang ulama dari Sumatera Barat dan diteruskan oleh Said ldrus Salim Aldjufri – seorang guru pada sekolah Alkhairaat. Agama Kristen pertama kali disebarkan di kabupaten Poso dan bagian selatan Donggala oleh missioner Belanda A.C Cruyt dan Adrian.
Uraian di atas merupakan sedikit pengetahuan tentang kebudayaan di wilayah Sulawesi Tengah. Pada blog ini saya akan menjelaskan dan menguraikan secara detail tentang kebudayaan dan kehidupan pada masyarakat di Kabupaten Buol atau Toli-Toli.


Kabupaten Buol atau Toli-Toli



Dengan wafatnya Raja Anoglipu atau Kuntu Amas, maka kabupaten Toli-Toli ini terbagi menjadi 4 bagian kerajaan lagi yang masing-masing raja nya sebagai berikut:
  1. Kerajaan Tolongan  dengan Raja Dai Parundu
  2. Kerajaan Tulaki dengan Raja Pulili Dwuta
  3. Kerajaan Bunobogu dengan Raja Umayah
  4. Kerajaan Riau dengan Raja Ndulu
Setelah keempat raja di atas wafat maka atas persetujuan keempat jurusan atau golongan rakyat dengan Bokidu, diangkatlah Jogugu Bataralangit menjadi Parabis (wakil raja) dan memerintah keempat wilayah yang akhirnya di persatukan kembali.



Perkembangan
Bataralangit meninggal ±1540 diganti oleh anaknya yang bernama Eanto Moh. Tahir dengan gelar Madika Moputi. Dalam Baool Staat raja ini merupakan raja pertama dalam susunan raja-raja dan tinggal di Pinamula 1540-1595.



Hubungan Antar Negara
♥ Pada masa pemerintahan Eato Mohammad Tohir sudah ada hubungan dengan  Ternate. Dengan Ternate mungkin hubungannya sebagai daerah taklukan dari Ternate. Buktinya adanya penyerahan tongkat kerajaan di mana tongkat tersebut memakai inisial Sultan Ternate di bagian pangkalnya. Di samping itu Pombang Lipu bersahabat dengan raja-raja Bolaang Mongondow, Dolaan Itam, Kaidipan, dan Raja Gorontalo.
Dengan Gorontalo Eato Mohammad Tohir terikat hubungan keluarga. Hubungan kerajaan Toli-Toli dengan  kerajaan Gorontalo karena terikatnya hubungan keluarga dengan menikahnya Ndain dengan Kurambu (putrid Toli-Toli).
Hubungan dangan Goa sebagai daerah taklukan di samping hubungan keluarga. (lihat sejarah atlas Moh. Yamin pada abad XVI-XVIII). Hubungan dengan Sigi sebagai keluarga dengan nikahnya keturunan Raja Toli-Toli, dengan Putri Sigi setelah Toli-Toli ditaklukan oleh Raja Sigi.


A. Penyelenggaraan Hidup dalam Masyarakat


1. Pemenuhan Kebutuhan
Pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan cara-cara pemenuhan kebutuhan dari zaman kuno. Untuk beberapa daerah sudah mulai di lakukan penanaman padi. Di Toli-Toli sudah mulai mengenal penanaman padi, yaitu pada tempat-tempat yang di genangi air. Mereka yang menanam di rawa belum mengetahui teknik pengaturan air hingga padi di tanamnya sampai tua tetap tergenang dalam air. Sudah mulai penanaman sagu (yang tadinya hanya tumbuh sendiri di hutan-hutan) dan kelapa yang sering dijadikan emas kawin. Mereka sudah mulai memelihara binatang ternak seperti ayam, anjing (untuk berburu), kerbau dan sapi. Di samping pertanian lading di beberapa tempat sudah mulai mengerjakan sawah. Juga berburu dan mengambil hasil hutan seperti rotan, dammar, untuk kebutuhan sendiri-sendiri.
2. Hubungan Antargolongan
Dalam masyarakat semakin jelas adanya kelompo-kelompok raja, bangsawan, orng merdeka, budak atau hamba. Hubungan antara golongan-golongan in di atur oleh adat yang sudah melembaga dalam masyarakat. Di Toli-Toli antara golongan Unbokilan dan Manuru sudah ada kerukunan. Tingkatan-tingkatan dalam masyarakat adalah sebagai berikut:
  1. Keluarga Bangsawan di sebut golongan 12 Tua.
  2. Keluarga Bangsawan Muda di sebut golongan 12 Muda, atau 8.
  3. Keluarga orang biasa di sebu golongan 4.
Perbedaan atau pembagian lapisan masyarakat ini amat menonjol dan nyata sekali pada waktu adapt upacara-upacara perkawinan, kematian dan sebagainya.


B. Kehidupan Seni Budaya



1. Pendidikan
Masih tetap pendidikan tradisional diadakan dalam hubungan keluarga untuk membentuk watak, susila, dan ketrampilan dalam memenuhi keperluan hidup seperti misalnya pengetahuan dalam pengolahan tanah dan berburu.
Dengan cerita lisan dibina pembentukan watak anak untuk mengetahui tata susila, menjadi berani dan kesatria. Etiket dalam pergaulan dimana yang muda harus menghormati yang lebih tua, golongan bawah harus menghormati golongan atas (bangsawan), demikian pula sebaliknya bagaimana golongan bangsawan menghadapi golongan di bawahnya. Karena pada zaman baru ini telah terpengaruh ajaran islam yang sudah masuk ke Sulawesi Tengah (walaupun belum menyeluruh), maka mulai lah dalam lingkungan yang memeluk kepercayaan ini diadakan pelajaran mengaji Al-Qur’an dan cara pelaksanaan ibadah (syariah islam).

2. Kesenian
Pada umumnya agama sama dengan kesenian zaman kuno. Seni tari, musik, nyanyian yang pada umumnya diadakan dan dikaitkan dengan upacara penyembahan pada roh (tari sakral dan magis), di samping untuk pergaulan muda mudi disaat tertentu menurut adat. Dengan masuknya ajaran islam maka juga termasuk dalam seni ini yaitu seni bacaan Al-Qur’an dan dzikir diadakan pada saat-saat tertentu seperti pada bulan ramadhan, pada waktu kematian, selamatan, perkawinan, dan lainnya.


♣ Upacara-upacara adat dalam pertanian.
Dalam bidang pertanian berlangsung upacara-upacara adat sejak membuka lading baru sampai upacara panen yang di sebut Adantane. Jiwa daripada upacara ini ialah laku perbuatan suci yang berisikan kepercayaan leluhur (nenek moyang) kepada yang dianggapnya penguasa tanah (To Manuru) yang memberikan kesuburan, keberhasilan, atau kegagalan. Dalam kontak dan komunikasi dengan penguasa itu diadakanlah upacara-upacara adat.

  1. Upacara pembukaan ladang baru.

Upacara ini disebut Balia Tampilangi. Yang memimpin acara ini ialah petugas di bidang pertanian yang diangkat atau ditunjuk oleh masyarakat, sesuai fungsi atau jabatannya, yaitu: Ulu tumba-Panuntu-Pogane-Togura Ntane-Maradika tanah dan Suro. Kegiatan upacara ini dipusatkan di Bantaya yang di buat di daerah lokasi perkebunan baru.

Tata cara pelaksanaannya:
a.    Motengge ntalu (memecahkan telur), yaitu telur masak yang dibawa oleh para petani. Yang berperan disini ialah Pogane (ahli mantra). Dengan hasil pemecahan telur tersebut akan diketahui atau sebagai suatu alamat bahwa usaha lading tersebut dapat berhasil atau gagal. Tanda-tanda kegagalannya kalau ada telur yang busuk, kosong atau lainnya yang menunjukan tanda-tanda tidak baik.

b.   Mogane ridayo (membaca mantra-mantra dikuburan yang dianggap keramat). Semua bahan-bahan untuk keperluan upacara balia dibawa kekuburan.
§  Nantalu (mulai menebang hutan).

Selesai Mogane Ridayo, semua peserta kembali ke Bantaya. Di tempat iniTogura Ntalua telah membagi lokasi kebun atau lading baru untuk mereka olah masing-masing


§  Nolili Bane (upacara mengelilingi benih padi).

Mengelilingi benih padi yang akan ditanam dengan suatu upacara, yaitu membaca mantra-mantra dengan membuat tempat sesajianyang di sebut “suampela” (semacam kayu bercabang atau tiga batang kayu diikat bagian tengahnya untuk membuat tiang dan bagian atas atau cabang tempat menyimpan benda-benda sesajian).

§  Nobalia.

Selesai upacara diatas semua peserta harus pulang ke Bantaya. Di sini diadakan upacara balia di mana orang-orang yang kemasukan atau kesurupan makhluk-makhluk halus (topokoro balia) sudah siap.

§  Notuda (menanam benih).

Petugas-petugas adapt inti bersama-sama dengan anggotanya dan para petani menuju ke kebun untuk menanam benih pada hari yang telah ditentukan.

§  Upacara No unja Bosu.

Bila padi sudah mulai berisi para petugas adat berkumpul untuk mengadakan upacara No unja Bosu, (mengurus bagian padi yang sedang berisi). Demikian pula jagung yang mulai berisi. Kemudian upacara kunjungan ke kuburan keramat untuk berdoa (mengucapkan mantra-mantra) seperti waktu sebelum menanam benih atau bibit.
§  Upacara Nomparaya (mengadakan sesajian).

Dalam upacara ini disembelih seekor ayam. Darahnya diambil dan dibubuhkan pada padiyang tumbuh dari benih yang pertama kali ditanam. Juga diantar berbagai jenis makanan ke kuburan untuk sesajian  yang diletakkan pada sebuah tempat dari kayu bercabangdengan diiring mantra-mantra, yang isinya sama dengan upacara diatas.

§  Modindi (upacarapuji-pujian).

Modindi yaitu suatu upacara puji-pujian kepada pemberi hasil dengan  lagu dan syair-syair tertentu. Isi syair melukiskan asal usul padi atau jagung sampai pada proses pengolahannya.

§  No Kato (memetik padi).

Yang memetik padi pertama kali ialah dukun (sando yang dibarengi dengan mantra-mantra, disusul oleh para anggota lainnya yang mengikutiupacara cara pemetikan.
§  Acara Nopinji.

Padi yang dipanen belum dapat dimakan sebelum diadakan acara Nopinji, yaitu membawa sesajian kepada pemberi hasil. Sesajian tersebut ialah beras baru yang dimasak pertama kali di bawa ke kuburan keramat disertai mantra-mantra.

§  Nanjolo (pesta selamatan panen).

Mengadakan upacara makan-makan sebagai pesta pora dengan segala jenis macam makanan.

§  No Wunja.

No Wunja adalah suatu pesta upacara selamatan selesai panen secara masal dengan acara yang besar dan meriah pada lokasi di sekitar baruga (rumah adat). Jenis wunja ada tiga macam, tergantung dari maksud dan tujuannya, yaitu:         -Untuk To Manaru – wunja kaleketi (wunja oge)
-Untuk Bone – wunja biasa (wunja rango-rango)
-Untuk Tampilangi – wunja bangunjaro
Bentuk wunja mana yang akan dilaksanakantergantung daripada hasil musyawarah di Bantaya.






2. Pakaian dan Perhiasan




Pakaian sehari-hari

Bahan-bahannya terdiri dari kulit kayu Nuru (pohon beringin), cara pembuatan kainnya dari kulit kayu yang bahannya dari kulit kayu Nunu. Cara pembuatannya adalah sebagai berikut:
v     Menguliti kayu Nunu sebagai sumber bahan.
v     Merebus kulit kayu tersebut sampai masak lalu di bungkus selama tiga hari.
v     Di cuci dengan air untuk membersihkan getahnya dan biasanya menggunakan pula abu dapur.
v     Kulit kayu tersebut di pukul dengan alat yang di sebut pola (bahannya dari batang enau) sampai mengembang dan melebar. Kemudian dipukul dengan alat yang bernama tinahi yang di buat dari batu yang agak kasar. Disini dapat disambung bahan yang satu dengan bahan yang lainnya agar menjadi lebar dan panjang, di susul dengan alat ike yang halus sampai bahan tersebut sudah menjadi sehelai kain yang panjangnya tiga sampai lima meter.
v     Setelah menjadi kain kemudian di gantung untuk di anginkan (nillave)
v     Sesudah kering dilipat untuk diratakan dengan pola tidak bergigi (niparondo) yaitu semacam setrika.

Pakaian upacara

Kalau pakaian sehari-hari terbuat dari kulit kayu Nunu (pohon beringin), maka khusus untuk pakaian upacara bahannya juga dibuat dari kulit kayu, tetapi kulit kayu dari kayu Ivo yang dapat menghasilkan kain kulit kayu yang lebih halus dan bermutu, dan lebih baik daripada yang terbuat dari kulit kayu Nunu. Kulit kayu Ivo setelah selesai pengolahannya menjadi kainyang warna dasarnya adalah putih. Cara pembuatanya sama dengan cara pembuatan kain kulit pohon Nunu.


♥ Perhiasan sehari-hari

Baik laki-laki maupun perempuan jarang menggunakan perhiasan. Bagi perempuan cukup anting-anting, kalung dan gelang yang bahannya dari manik-manik yang disambung atau diikat satu sama lain.

Perhiasan-perhiasan saat upacara

  • Daun enau atau daun kelapayang dikeluarkan lidinya. Daun enau atau daun kelapa tersebut dianyam, dibentuk sesuai keinginan atau terurai begitu saja., dan fungsinya hanya sebagai dekorasi.
  • Selain itu juga dikenal dengan menggunakan alat dekorasi yaitu Mbesa, kain kulit kayu yang khusus dibuat dilengkapi hiasan-hiasan yang fungsinya hanya untuk hiasan (dekorasi) pada upacara-upacara tertentu.

3. Tempat Perlindungan atau Perumahan


- Sou adalah pondok yang didirikan di sekitar lading dan sawah.
- Lolu merupakan tempat yang dibuat khusus untuk berteduh.
- Kandepe adalah tempat untuk tinggal sementara
- Bente (benteng), yaitu dikenal pada zaman raja-raja

Rumah tempat tinggal

Rumah tinggal masyarakat Toli-Toli di Sulawesi Tengah, bentuknya rumah panggung segiempat panjang, bagian samping kiri atau kanan serta muka belakang memakai dinding, tidak mempunyai kamar hanya menggunakan sampiran dari kain kulit kayu Nunu.



Dalam membuat rumah tinggal baru diadakan berbagai upacara-upacara mendirikan rumah yaitu:
1.  Upacara mendirikan rumah
Sebelum mendirikan rumah selalu di dahului dengan penelitian tanah untuk tempat dimana rumah itu akan didirikan. Tekhnik penelitian tanah itu sifatnya masih tradisional, antara lain dengan memasukan lidi ke dalam tanah atau memasukan ujung parang diiringi dengan mantra-mantra, dimana nanti akan nyata apakah tempat itu baik atau tidak baik sebagai lokasi perumahanpekerjaan penelitian tanah tersebut dilakukan oleh dukun yang khusus bertugas untuk itu. Jadi dukunlah yang berhak menentukan dimana sebaiknya rumah didirikan.
2.   Melubangi tiang
Mendahului pelaksaannya dipilih hari baik, kemudian di undanglah para orang tua dan tukang yang akan membangun rumah itu. Dalam pertemuan tersebut diadakan sesajian dengan tujuan agar tiang rumah kuat, dan tahan lama serta merupakan persembahan bagi makhluk-makhluk halus di sekitar tempat bangunan itu.
3.   Mendirikan rumah
Bilamana tiang-tiang telah selesai dilubangi seluruhnya, maka dicarilah suatu hari yang baik oleh para orang tua untuk menentukan hari mendirikan rumah. Untuk ini disediakan sesajian pula, yaitu:
-          Tebu beberapa batang
-          Pisang setadan
-          Kelapa setangkai (beberapa buah)
-          Jagung seikat
-          Padi sebernas
-          Kain putih satu meter
4.   Menyelamati rumah
Upacara ini dilakukan kelak apabila sebuah bangunan rumah sudah selesai didirikan dan sebelumnya penghuni rumah menempatinya, sebagai upacara selamatan tanda pengucapan syukur dan kegembiraan atas selesainya bangunan rumah itu.


Hubungan ke Luar


Bentuk hubungan masyarakat Toli-Toli dengan luar daerah.

Pada tahun 1669 antara VOC (belanda) sudah ada bentuk hubungan dengan kerajaan-kerajaan Banawa, Tawaeli, Palu, Loli dan Sigi (selanjutnya disebut kerajaan-kerajaan Kaili).
Hubungan tersebut berbentuk hubungan dagang. Belanda (VOC) mengadakan kontrak pembelian emas. Disamping itu juga di ketahui adanya hubungan persahabatan dengan wakil penguasa Portugis di Ternate pada zaman pemerintahan Sultan Bato. Juga sudah ada hubungan dagang antara Toli-Toli dengan Maluku, Ujung Pandang, Ta Bara (Singapura), dan Malaka.
Masyarakat Toli-Toli mengadakan perdagangan bersama-sama pedagang-pedagang Bugis dengan menggunakan perahu layar. Dengan adanya hubungan dagang Sulawesi Tengah dengan daerah luarnya, maka sudah dikenal pemakaian mata uang sebagai alat jual beli.

Akibat Hubungan

Belanda membuat benteng atau loji di Parigi pada tahun 1770 dan di Lambunu. Pembuatan loji di Parigi dimaksudkan untuk mengawasi penambangan emas di Parigi, yang diusahakan oleh Nedherland Celebes Maatschappij. Tetapi tambang ini tak lama usianya. Produksinya merosot karena itu dianggap tidak sepadan penghasilan dengan ongkos atau yang dikeluarkan. Akibatnya pada tahun 1795 pendudukan atas Parigi dihapuskan dan sejak saat itu sampai kurang lebih tahun 1850  Belanda tidak menghiraukannya lagi. Tentang Pombang Lipu dari Toli-Toli dengan wakil Portugis di Ternate, dimana Pombang Lipu memberikan emas pada Portugis maka beliau dilantik oleh Portugis menjadi raja Toli-Toli pada tahun 1592. Pada abad XVII VOC mengadakan hubungan dengan Raja Toli-Toli yang sudah memeluk agama islam. Sultan Pondu yang sudah beragama islam di perintah memelihara babi, tapi Sultan Pondu memberontak atas perintah ini. Akibatnya beliau dibunuh dengan secara kejam oleh Belanda, beliau diikat pada dua ekor kuda yang kemudian kuda tersebut disuruh lari kea rah yang berlawanan sehingga badan sultan terbelah dua. Hukuman ini dilaksanakan di Manado.

Kebudayaan Teluk Tomini - Sulteng

Kebudayaan Teluk Tomini - Sulawesi Tengah


Kebudayaan sangat erat hubunagnna dengan masyarakat. Melveli J. Herskovit dan Bronoslaw Malonowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Adreas eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius dan lain-lain, tambah lagi segala pertanyaan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, keseniman, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seorang anggota masyarakat.

Dari definisi diatas, dapat diperoleh  pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebadayaan itu bersifat abstrak.

“ Menurut saya kebudayaan adalah  sesuatu yang mengenai cara hidup, pandang, hukum, adat, seni, norma, agama, dan pola pikir yang diwariskan secara turun temurun dari zaman dahulu hingga zaman sekarang ini “.

Kebudayaan Sulawesi Tengah

Sedikit mengenai kebudayaan Sulawesi Tengah tepatnya diteluk Tomini dijumpai suku bangsa yang bahasanya sedikit dari bahasa Ledo dan bahasa Poso (Bare’e). Mereka itu dinamakan suku Tomini yang terdiri atas suku yaitu :
  • Suku Tialo
  • Suku Lauje

Pada masyarakat itu ditemui satu kepercayaan bahwa asal mula kejadian hidup ialah disuatu temapt diatas Pegunungan Palasa bernama Lembo Dayon. Menurut ceritanya karena pertemuan langit dan bumi, karena banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak perbedaan diantara etnis tersebut yang merupakan khasan harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal dipantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan msyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat Gorontalo. Dibagian Timur pula Sulawesi, juga terdapat pengaruh kuat Gorontalo dan Menado, terlihat dari dialek daerah Luwuk, dan sebaran suku Gorontalo dikecamatan Bualemo yang cukup dominan.

Dalam musik dan tarian di Sulawesi Tengah bevareasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrumen seperti suling, gong dan gendang. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai bagian keagamaan. Diwilayah beretnis Kaiili sekitar pantai barat, Waino musik tradisional ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer para pemuda sebagai sarana mencari pasangan disuatu keramaian. Banyak tarian yang terkenal seperti Dero yang berasal dari masyarakat Pamona, kabupaten Poso dan diikuti oleh masyarakat Kulawi, kabupaten Donggala. Tarian dero khusus ditampilkan ketika musim panen, upacara penyambutan tamu, syukuran dan hari-hari besar tertentu.

Di dalam bahasa dan tulisan yang dipakai Oleh masyarakat Sulawesi Tengah, dikenal cukup banyak bahasa yaitu bahasa Kaili, Tomini, Pamona, bada, Napu, Pipikoro, Toli-toli, Buol, Saluan, Balantak, dan bahasa Banggai. Tetapi diantara pemakai bahasa-bahasa daerah tersebut sebagian besar dapat saling mengerti satu sama lain.

Dalam agama, masyarakat Sulawesi Tengah sebagian besar 72,36% penduduk memeluk agama islam, 24,51% memeluk agama keristen, dan 3,13% memeluk agama hindu dan budha. Islam disebarkan di Sulawesi Tengah oleh Datuk Karamah, seorang ulama dari Sumatra Barat dan diteruskan oleh Said Idruss Salim aldjufri, seorang guru ulama Alkhairaat. Agama kristen pertamakali disebarkan dikabupaten Poso dan bagian Selatan Donggala oleh Missioner Belanda A. C Cruyt dan Adrian.

Pantai Tanjung Karang

 Berlibur ke Pantai Tanjung Karang - Sulawesi Tengah

Tanjung Karang sebuah kawasan pantai yang berada persis di mulut  teluk Palu, tiga kilometer sebelah utara dari kota Donggala, sebuah kota Tua di Propinsi Sulawesi Tengah yang menyediakan beragam alternatif pelesiran, mulai dari wisata alam pegunungan, wisata budaya hingga wisata pantai.
Untuk mencapai tanjung karang tidak begitu sulit, dari Palu,  Ibukota Propinsi Sulawesi tengah, bisa ditempuh dalam waktu 45 menit, sepanjang perjalanan menuju tanjung karang, wisatawan akan dimanjakan dengan  pemandangan indah pantai teluk Palu, teluk yang menjorok dari tanjung karang hingga ke muara Sungai Palu, selain itu anda juga misa menyaksikan aktifitas keseharian masyarakat Banawa, sebuah daerah kecamatan di mana tanjung karang berada.

Saat menginjakan kaki di tanjung karang, mata setiap pengunjung akan langsung tertumbuk pada keindahan pasir putih di sepanjang pantainya, dan warna air laut kebiruan mulai dari tepi hingga ke lepas pantai. Siapapun pasti tidak tahan untuk segera menceburkan diri ke laut, atau langsung duduk di pasir putih.

Bagi penggemar olahraga selam, lokasi ini merupakan “surga” bagi mereka, keindahan terumbu karang Dengan beraneka ragam jenis ikan karang begitu mempesona,“keindahan terumbu karang disini sangat luar biasa, apalagi memang terdapat aneka jenis ikan karang yang berenang disekitar kita, akan menambah kenikmatan saat bertualang di bawah laut “ ujar Udin, salah seorang pengunjung yang mengaku berasal dari Palu.

Disini beberapa cottage yang ada memang menyediakan alat selam, yang bisa disewa, juga kapal pesiar  bagi yang ingin menikmati keindahan dunia bawah laut melalui kotak kaca di lambung kapal, atau bisa juga menyewa perahu motor milik warga setempat sebagai alternativ  jika hanya ingin sekedar menikmati suasana laut.
Bagi yang tidak memiliki dana cukup, bisa juga menyewa perlengkapan snorkeling kepada warga setempat yang memang membuka lapak-lapak penyewaan alat-alat snorkeling dan pelampung sederhana.

Keindahan tanjung karang yang menarik pengunjung baik lokal maupun luar, menjadi berkah dan lahan usaha bagi warga setempat, tengok saja warung-warung sepanjang pantai miliki warga setempat selalu dipenuhi para pembeli khususnya pada saat-saat liburan. Aneka jenis makanan tersedia disini, mulai dari hidangan menu laut hingga penganan kecil, bagi anda yang menggemari makanan lokal juga tersedia, seperti burasa, gogos dan sebaginya.

Bila anda bermaksud berlibur bersama keluarga atau relasi bisnis, tersedia banyak cottage disini,harganya pun  beragam dari  tiga puluh lima ribu, hingga seratus ribu rupiah permalam.

Meski menyimpan potensi yang begitu besar, perhatian dan kepedulian pemerintah terhadap objek wisata ini belum terlihat, fasilitas-fasilitas pengunjung, penataan, dan pengelolaan yang ada masih sangat minim, karenanya, Andi Anwar salah seorang aktivis lingkungan di Donggala berharap kepada pemerintah untuk memberikan perhatian lebih besar pada pengembangan potensi tanjung karang.

“Saya berharap pemerintah bisa mengembangkan pariwisata Tanjung Karang, dengan mengembangkan sebuah konsep pengelolaan pariwisata yang mengedepankan potensi alamiah dan partisipasi warga setempat, dengan memberikan fasilitas dan pengetahuan pengelolaan kepada warga, sehingga warga benar-benar menjadi pelaku sekaligus penikmat manfaat ekonomi dari aktifitas pariwisata itu sendiri, bila ini dilakukan ini akan mengerakan ekonomi setempat” tegas Andi.

Pulau Pasoso

Potensi Wisata Alam Pulau Pasoso

Salah satu potensi wisata alam yang terdapat di Sulawesi tengah adalah Pulau Pasoso, pulau yang sangat terkenal dengan populasi penyu hijau ini terletak di pantai barat Kabupaten Donggala, dan secara administrative masuk dalam Kecamatan Balaesang. Pulau ini menawarkan pemandangan laut dan pantai yang sangat indah, keindahan suasana pantai semakin mengagumkan disaat menyaksikan sekelompok penyu naik ke darat untuk bertelur. Bagi wisatawan mancanegara pulau ini sangat indah untuk berjemur, sinar matahari yang menyinari pulau ini sepanjang hari dijamin akan memuaskan para pengunjung.

Pasoso saat ini telah ditetapkan sebagai area konservasi penyu yang memiliki panorama Laut yang indah, bagi anda penggemar kegiatan snorkeling akan menemukan keindahan dunia bawah laut yang tiada taranya. Atau juga bias menikmati beragam budaya masyarakat setempat yang sangat mempesona.

Untuk mencapai Pulau Pasoso dapat ditempuh melalui beberapa jalur, namun jalur utama adalah dari desa Tambu di Kecamatan Balaesang, 108 KM sebelah Utara dari Kota Palu, ditambah perjalanan dengan perahu motor selama kurang lebih 1 jam. Jalur alternative yang tak kalah serunya adalah dari Tanjung Karang, jalur ini merupakan jalur paling popular dikarenakan beberapa pengusaha pariwisata di Tanjung Karang menyiapkan paket perjalanan ke Pulau Pasoso dengan menggunakan Kapal pengamat karang yang membuat pengunjung bisa menyaksikan keindahan panorama bawah laut.

Bagi anda penggemar olahraga atau wisata pancing maka lokasi sekitar pulau Pasoso merupakan area yang sangat menjanjikan untuk anda kunjungi.

Gunung Sojol merupakan Gunung tertinggi di propinsi Sulawesi Tengah

Gunung Sojol 

Gunung Sojol merupakan Gunung tertinggi di propinsi Sulawesi Tengah, Gunung dengan ketinggian mencapai 3025 mdpl (data peta Bakosurtanal) terletak di Kecamatan Sojol Utara Kabupaten Donggala, Kecamatan sojol berjarak 190 Km dan memakan waktu perjalanan delapan jam dari Palu Ibukota Propinsi Sulawesi Tengah.
Para pendaki biasanya memulai pendakian dari salah satu desa di kaki gunung sojol yaitu desa Siboang, untuk mencapai Desa ini dari kota Palu bsia menggunakan  jasa angkutan umum dari terminal Mamboro palu dengan biaya Rp.100.000.
Seperti  umunya pendakian ke Gunung lainnya di Sulawesi Tengah, pendakian gunung sojol termasuk pendakian berat, hal ini dikarenakan panjangnya jalur/lintasan pendakian yang disebabkan titik strat pendakian yang dimulai dari bawah (-50 mdpl), berbeda dengan pendakian beberapa gung dijawa yang titik start berkisar 500-100 mdpl.
Selain itu kondisi medan yang sangat alami juga menyulitkan para pendaki, pendakian ke Sojo bukan sebatas trekking atau hiking saja, jarangnya pendakian ke gunung ini menyebabkan setiap pendaki harus membuka/merintis jalur sendiri, termasuk menentukan arah lintasan yang akan ditempuh, ditambah dengan kondisi hutan tropis yang sangat rapat.
Dengan kondisi medan seperti diatas, kesiapan tim pendakian harus benar-benar matang, mulai dari perlengkapan navigasi, perbekalan hingga golok untuk merintis jalur. Beberapa kali pendakian yang dilakukan oleh beberapa tim pendaki baik dari sulteng maupun dari luar membutuhkan waktu pendakian berkisar antara 12-20 hari dilapangan. Dengan waktu tempuh sedemikian lama tentunya beban peralatan dan perbekalan semakin bertambah.
Namun meski sedemikian berat, tentu para petualang sejati tak akan surut bahkan semakin tertantang untuk menjajal dan menikmati pesona pendakian ke Gung Sojol. Selamat mendaki.

Waktu Liburan Desa Lende

Waktu Liburan Desa Lende

Terletak sekitar 100 km dari tengah kota palu, Lende begitu nama desa yang satu ini, ternyata mempunyai sejuta pesona yang bisa dinikmati untuk menghabiskan waktu liburan. Desa Lende,tepatnya di daerah Kec. Sirenja Kabupaten donggala yang lebih di kenal dengan nama daerah pantai Barat ( begitu orang - orang di sulteng menyebutnya, mungkin Karena arah pantai yang terbentang panjang di sebelah barat). Desa ini memiliki pemandangan alam yang elok, terletak di pesisir pantai dengan pasir putih yang terhampar bersih, dari atas bebatuan yg berada di pinggir pantai nampak ikan - ikan berkejar - kejaran di balik terumbu karang, uniknya pantai dengan nama parimpi ini juga terhubung dengan pantai labuana, dengan suasana pantai yang masih asri karena belum ada resort atau cottage, yang ada hanya rumah - rumah nelayan.

Nah, jika kesana kita bisa menikmati ikan - ikan segar yang dapat di pancing sendiri atau bisa di beli langsung(pastinya dengan harga murah) jika ada nelayan yang baru datang dari melaut. hmmm kita pun dapat menikmati ikan sambil melihat sun set.. Selain pesona pantai yang bak surgawi, keramahan penduduk di desa lende ini pun menjadi kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung.

Berbagai makanan khas lokal yang bisa dinikmati dapat dibeli dari penduduk, mulai dari kue - kue tradisional antara lain banda malojo, tetu dsb, hingga minuman lokal tule'(air pohon enau yang rasanya manis) . belum lagi jika musim durian tiba.. wisata anda pun menjadi begitu sempurna.

Sayangnya, pemerintah kurang melirik daerah ini sebagai objek wisata yang menawan, sehingga untuk menjadikannya lebih menarik untuk dikunjungi wisatawan masih perlu penataan, promosi dan pastinya jika

Souraja Rumah adat Kaili

Souraja Rumah adat Kaili

Rumah adat atau rumah tradisional khas Sulawesi Tengah adalah Souraja, yakni bangunan rumah tradisional  yang merupakan tempat tinggal para bangsawan.  Souraja juga sering disebut Banua Mbaso atau rumah besar yakni  rumah kediaman tidak resmi dari manggan atau raja beserta keluarga-keluarganya.

Meskipun demikian sebagian besar rumah rakyat serupa dengan Souraja, hanya bentuk dan ukurannya sedikit berbeda dengan yang dimiliki para pembesar atau bangsawan. Bangunan ini berbentuk rumah panggung yang ditunjang sejumlah tiang kayu balok persegi empat dari kayu tertentu yang memiliki kualitas yang baik serta tahan lama.

Bagian Atap Souraja  berbentuk piramide segitiga, bagian depan dan belakang atapnya ditutup dengan papan yang dihiasi dengan ukiran dengan motif yang sangat khas dan disebut panapiri, pada ujung bubungan  depan dan belakang terdapat  mahkota berukir disebut bangko-bangko.

Bagian yang paling mencolok dan unik dari desain bangunan ini adalah bagian depan dimana terdapat teras yang cukup besar, ditambah bagian teras tambahan yang sedikit menjorok kedepan, dan anak tangga dari dua sisi kiri dan kanan sebagai akses utama memasuki bangunan ini.

Desain Souraja sangat khas dan artistic, terbuat dari kayu-kayu pilihan, dengan hiasan kaligrafi disekelilingnya, serta tambahan struktur seperti bangko dan lainnya. Yang melambangkan keramahan, kemuliaan dan kesejahteraan penghuninya.