Test Footer

LightBlog

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, August 30, 2012

Senjata tradisional kota palu

Senjata tradisional masyarakat di Sulawesi Tengah

Berikut adalah beberapa jenis senjata tradisional masyarakat di Sulawesi Tengah, salah satu jenis senjata tradisional yang terkenal di Sulawesi Tengah adalah pasatimpo, yaitu sejenis parang yang hulunya bengkok dan sarungnya diberi tali, selain jenis parang adapula berupa tombakyang terdiri atas kanjae dan surampa (bermata tiga seperti senjata trisula), serta sumpit. 
Selain itu, terdapat pula jenis senjata tradisional yang lain berupa parang panjang yang dalam bahasa local disebut “Guma”,  yang dibuat oleh tukang besi (pande) yang ahli membuat senjata tajam.
Jenis-jenis senjata tradisional ini oleh masyarakat local digunakan sebagai alat untuk berperang melawan musuh atau melindungi diri dari serangan binatang buas. Juga dilengkapi sejenis tameng pelindung diri dari serangan lawan yang disebut “cakalele”  yang terbuat dari kayu dan dilapisi dengan sekeping besi tipis.
Pada saat ini jenis-jenis senjata tradisional yang ada juga digunakan untuk berbagai keperluan dalam rangka aktivitas hidup sehari-hari, seperti untuk mencari kayu bakar, memotong hewan buruan atau piaraan untuk dikonsumsi, dan lain-lain.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi Sulawesi Tengah

Kerajinan Kota Palu

Sarung Donggala PDF Print E-mail
Sarung Donggala merupakan kerajinan tradisional masyarakat Donggala yang sangat populer, bukan hanya dikalangan masyarakat Sulawesi Tengah namun juga hingga daerah lainnya, kerajinan ini telah secara turun temurun diwariskan masyarakat donggala.Sarung tenunan tradisional ini sangat istimewa, dibuat dari bahan serat sutera alami yang dibuat dalam berbagai warna dan motif yang sangat menarik dan khas.
Ditenun oleh tangan-tangan terampil perempuan di desa-desa di wilayah Donggala dengan menggunakan alat tradisional yang dalam bahasa setempat disebut balida.Kerajinan tenun ini hingga saat ini masih terdapat diberbagai wilayah di Donggala, diantaranya di Kecamatan Banawa, Banawa Tengah, Banawa Selatan, Tavaili, dan Labuan. Setiuap daerah memiliki motif dan corak tertentu. Beberapa motif yang sangat popular diantaranya, bomba, bunga mawar, kamboja, anyelir, dan bunga subi.

Kerajinan ini telah dilakukan oleh masyarakat Donggala sejak dahulu kala, dilakukan oleh kaum perempuan di desa-desa di saat senaggang seusai mengerjakan tugas rumah tangga, selain untuk menambah penghasilan keluarga juga untuk kelangsungan budaya setempat.

Untuk memperolehnya anda tidak perlu bersusah payah, saat ini telah banyak gerai yang menawarkan sarung donggala, bahkan diantaranya ada yang telah membuka online store buya sabe , yang memungkinkan anda membeli sarung ini secara online.

Untuk melestarikan budaya ini, Pemerintah Kabupaten Donggala, telah menerbitkan peraturan daerah tentang tenun Donggala. Namun yang terpenting adalah mempromosikan produk kerjainan ini dan membuka pasar yang lebih luas.

Warisan Tradisi Kota Palu

Kain Tradisional Sarung Tenun Donggala

Sarung Donggala merupakan kerajinan tradisional masyarakat Donggala yang sangat populer, bukan hanya dikalangan masyarakat Sulawesi Tengah namun juga hingga daerah lainnya, kerajinan ini telah secara turun temurun diwariskan masyarakat donggala.

Kain tenun Donggala telah ada sejak ratusan tahun silam. Kain yang dibuat dari mesin tenun sederhana itu memiliki motif beragam, antara lain motif bunga mawar, bunga anyelir, buya bomba subi kumbaja, bunga subi, kombinasi bunga subi dan bomba, buya bomba, dan buya subi kumbaja.

Kain tenun ikat asal Kabupaten Donggala itu pada umumnya bermotif kotak-kotak, yang bermakna saling memegang keutuhan dan kebersamaan. Ada juga motif lungsin berupa gambaran nekara yang disusun secara geometris, yang juga menggambarkan kebersamaan.

Kain Tradisional Sarung Tenun Donggala
Kain Donggala



Sejumlah tempat di kabupaten Donggala menjadi pusat pengrajin kain tersebut, seperti Desa Towale dan Watusampu di Kecamatan Banawa yang berjarak 40 kilometer dari Kota Palu.kain tenun Donggala harus dilestarikan agar tetap ada dan dibanggakan oleh masyarakat Sulawesi Tengah.Satu lembar kain Donggala bisa dibuat selama satu bulan. Jika motifnya sulit, bisa membutuhkan pengerjaan selama hingga dua bulan.

Kain tenun donggala biasanya digunakan pada upacara perkawinan adat atau hari-hari besar keagamaan. Asal usul benda ini sulit ditelusuri karena sudah ada sejak ratusan tahun silam.Dulu, kain atau sarung Donggala hanya boleh dikenakan pada acara perkawinan, sunatan, dan upacara adat. Motif tertentu, seperti palaekat, hanya boleh dikenakan raja atau kaum bangsawan.Seiring dengan perkembangan zaman, kain tenun donggala banyak dimiliki masyarakat umum dan digunakan dalam berbagai kesempatan resmi.

Untuk melestarikannya, pemerintah Kabupaten Donggala telah memiliki hak paten atas kain tenun Donggala.
Kain Tradisional Sarung Tenun Donggala

 

Kain Tradisional Sarung Tenun Donggala



Ketenaran kain tenun ini sudah tersohor di seluruh negri sampai seringkali para pengrajin ini mengikuti festival atau pameran busana. Hal ini juga memberikan kemudahan bagi para pengrajin yang tadinya seringkali harus pergi ke Palu untuk menjual kain, sekarang hanya tinggal menunggu pedagang dari Palu yang akan mengambil kain tenun mereka.

Masyarakat Donggala awalnya memakai kain ini sebagai sarung untuk acara resmi seperti perayaan atau pesta, namun seiring perkembangan jaman kain tenun Donggala ini sudah banyak diekspor dan dijadikan jenis pakaian lain seperti baju atau kemeja.

Yummyyyyy....

Bawang Goreng Palu
 
image

Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki oleh-oleh yang khas. Bagi warga Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), bawang goreng menjadi oleh-oleh yang wajib diberikan kepada sanak saudara ataupun teman. Kini, bawang goreng Palu telah masuk ke pasar dunia. Sebab, menurut pemerintah Sulteng, bawang goreng Palu selalu diikutsertakan dalam pameran nasional dan internasional. 
Keunggulan
Bawang goreng Palu memang memiliki keistimewaan karena cita rasanya yang khas. Yakni, gurih, renyah, dan harum. Sebab, bahan bakunya adalah bawang merah Palu. Bawang merah ini hanya tumbuh di lembah Palu yang memiliki iklim dan jenis tanah yang berbeda. Kedua faktor inilah yang membuat umbi bawang berbau harum. Selain cita rasanya, bawang goreng ini juga tahan lama.
Bawang Goreng Palu sangat garing, renyah tanpa rasa pahit. Untuk taburan nasi goreng, nasi uduk, bubur ayam, atau mie rebus, dll serta dapat dimakan seperti kerupuk (cemilan). Diproduksi tanpa bahan pengawet, berkwalitas dan hanya terdapat didaerah Palu.
Rasanya kriuk kriuk & lama-lama berasa manis di mulut. Sekali coba, dijamin bakal ketagihan !!!

Kota Bawang Goreng Renyah

PALU (jurnalberita.com) – Siapa yang tak tahu dengan bawang goreng. Di kota Palu, bawang goreng Palu sebagai salah satu ciri khas kini sudah mampu menembus pasaran dunia yakni hingga negeri kincir angin, Belanda.
Bawang gorang yang awalnya merupakan usaha rumahan atau home industri keluarga Suprayitno, kini melejit hingga pasaran ekpor ke luar negeri. Setelah gagal di bisnis vanili pada tahun 2000 lalu, Suprayitno bangkit. Memulai usaha dari nol untuk membuka usaha bawang goreng pada tahun 2003.
Dengan dana yang minim, Suprayitno dibantu istrinya mulai membuka usaha bawang goreng di rumahnya. Bawang goreng hasil olahannya dipasarkan sendiri di kota Palu.
Perkembangan dari tahun ke tahun, usaha bawang gorengPalu mulai di kenal di kota Palu. Melihat peluang sudah terbuka, Suprayitno mulai mengembangkannya ke kota tetangga Ujung Pandang maupun Manado. Alhasil, produk bawang gorengnya bisa di terima masyarakat di kedua kota tersebut.
Dengan perkembangan usahanya tersebut, Suprayitno akhirnya membuka outlet di jalan Abdulrahman Saleh, jalan menuju Bandara Mutiara Palu. Di outlet tersebut, tak hanya berisi bawang goreng, namun juga berisi berbagai macam makanan dan kue khas Palu.
Suprayitno saat di temui jurnalberita.com di outletnya mengaku bersyukur dengan perkembangan usahanya mesti pada awalnya sempat tertatih-tatih. “Saya membuka usaha bawang goreng yang dibantu oleh istri. Saya yang belanja bahan bakunya dan pemasaran. Alhamdulillah, sekarang usaha saya tidak hanya bawang goreng saja, tapi ditambah dengan abon dari ikan dan kue khas dari Palu” ungkat Prayit, panggilan akrabnya.
Ia mengungkapkan, saat ini, kebutuhan bawang tiap  3 hari bisa menghabiskan 300 kilo gram bawang mentah. “Kami kirim setiap 1 tahun sekali ke negeri Belanda. Kami bersyukur usaha kami bisa tembus Belanda, ya meski lewat kawan yang di Jakarta,” ujarnya. (jbc3/jbc2)

Kota Palu

PALU, KOTA BAWANG GORENG

Masjid Jabbal Nur, Palu
Temans, Pa kabar malam ini??


Pukul 02.00 WIB tepat saat kutuliskan ceritaku ini, aku terbangun untuk melaksanakan sahur. Puasa Sunah di awal Bulan Rajab. Walau banyak yang membuat kajian tentang keutamaan berpuasa di awal bulan Rajab serta yang menyatakan sebaliknya, aku memilih melaksanakan puasa sunah sebagai sebuah ibadah. TITIK. Ibadah itu biarlah menjadi urusan aku dan Tuhanku, Allah SWT. 


Menyiapkan makan sahur seadanya, ditemani dengan bawang goreng kriuk khas Kota Palu, semoga makan sahurku ini membawa berkah. Amien...


Kota Palu, kota bawang goreng ini kusinggahi pada awal Bulan Mei 2012 yang lalu. Kedudukan Kota Palu yang diapit oleh bukit-bukit dan pantai sehingga Kota Palu dikategorikan kota lembah. Berdasarkan kondisi tersebut maka suhu udara dipengaruhi oleh udara pegunungan dan udara pantai yang berakibat pada terdapatnya perbedaan suhu antar wilayah yang dipengaruhi suhu pengunungan. Kadang siang bolong, sehabis panas menyengat ubun-ubun, tiba-tiba hujan dereeesss banget. tapi setelah reda, ya panas lagi.... Pokoknya kalau di Palu, harus sedia payung sebelum tiba2 hujan..hehehehhe



Temans, banyak sekali bangunan dan pemandangan yang mempesona di Palu. Jembatan Kuning seperti gambar di atas salah satunya.
Kadang mulut ini nggak banyak berkata, hanya mengucap syukur dan kekaguman pada Sang Pencipta, Kota yang mengililingi sebuah palung, indaaahhh sekali. Pemandangan malam pun juga tidak kalah indahnya. Lampu-lampu yang kerlap-kerlip di seberang palung, menambah romantisnya kota ini. Apalagi teman yang mendampingi aku keliling ini adalah Seorang Bapak Ganteng, Dosen sebuah PTN di Palu. Trus hubungannya romantis dengan Bapak ini apa????? hehehhehe....kamsudnya..eh maksudnya begini, Bapak ini pandai sekali "menjual" kotanya dengan cerita berbagai tempat indah di sana.Trus aku diajakin ke sebuah rumah makan tepi laut yang tergolong besaarrr dan itu tadi..romantis....heheheh, Oh ya, nama rumah makan ini adalah Kampung Nelayan, silahkan buktikan sendiri kalau berkunjung ke Palu. (Waduuhhh...aku sudah terlanjur menyebut merk nih, kalau di dunia pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, kalau bikin spek khan nggak boleh nyebut merk, kecuali suku cadang...yach...dianggap saja suku cadang wkkkkk

Sehabis menyelesaikan kelas Bimtek Pengadaan barang dan Jasa di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Propinsi Sulawesi Tengah, aku sengaja keliling kota untuk melihat-lihat keindahan Palu di sore menjelang Magrib. Sebuah masjid dibangun di tengah laut yang mampu membuatku berhenti untuk menikmati bangunannya yang mungil dan elok. Sorot lampu aneka warna yang sengaja disorotkan ke kubahnya, semakin menambah elok dan mampu mencuri pandang bagi siapa saja yang melewatinya. Banyak orang berfoto di depannya, semoga mereka juga sempat sholat di dalamnya.... hehehee soalnya aku nggak sempat, karna diantar ibu Kepala Tata Usaha LPMP, sehingga kuputuskan untuk sholat di Wisma LPMP saja.



Pantai Kota Palu



Sop Kaledo, Makanan khas Palu (sop kaki sapi)
Bandara Mutiara, Palu

langit merah menjelang Magrib di Kota palu


Maaf temans, sebenarnya banyak yang ingin kuceritakan, tapi aku berharap akan kembali lagi ke kota ini. Akan aku ceritakan tentang duren kota Palu yang tidak pernah habis musimnya, tentang Sop kaledo yang nikmat, tentang industri bawang goreng yang mampu menjadi ICON kota, dan banyak hal yang lain.

Thursday, August 23, 2012

Idul Fitri 1 Syawal 1433 H