Test Footer

LightBlog

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Friday, August 31, 2012

Tarian Sulawesi Tengah

Tari Torompio

“Torompio” adalah ungkapan dalam bahasa Pamona, Sulawesi Tengah. Ungkapan ini terdiri atas dua kata, yakni “toro” yang berarti “berputar” dan “pio” yang berarti “angin”. Jadi, “torompio” berarti “angin berputar”. Makna yang terkandung dalam ungkapan tersebut adalah “gelora cinta kasih” yang dilambangkan oleh tarian yang dinamis dengan gerakan berputar-putar bagaikan insan yang sedang dilanda cinta kasih, sehingga tarian ini disebut torompio. Pengertian gelora cinta kasih sebenarnya bukan hanya untuk sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, melainkan juga untuk semua kehidupan, seperti: cinta tanah air, cinta sesama umat, cinta kepada tamu-tamu (menghargai tamu-tamu) dan lain sebagainya. Namun, yang lebih menonjol ialah cinta kasih antarsesama remaja atau muda-mudi, sehingga tarian ini lebih dikenal sebagai tarian muda-mudi. Torompio dalam penampilannya sangat ditentukan oleh syair lagu pengiring yang dinyanyikan oleh penari dan pengiring tari.

Tarian ini dahulu ditarikan secara spontan oleh para remaja dengan jumlah yang tidak terbatas dan dipergelarkan di tempat terbuka, seperti halaman rumah atau tempat tertentu yang agak luas. Para penontonnya muda-mudi yang berdiri dan membentuk lingkaran, karena tari ini didominasi oleh komposisi lingkaran dan berbaris.

Pertunjukan tari torompio diawali dengan gerakan linggi doe atau panggilan buat para penari. Dalam linggi doe para penari akan masuk ke pentas dari dua arah. Penari pria dari arah kiri dan wanita dari kanan. Selanjutnya, mereka bertemu dalam satu barisan dan kemudian berpisah membentuk satu baris memanjang untuk melakukan gerakan penghormatan. Setelah itu, disusul dengan gerakan mantuju ada. Dalam gerakan ini penari membentuk bulatan besar kemudian bulatan kecil, dengan maksud menyampaikan pesan bahwa mereka anak-seberang akan mempertunjukkan tari torompio.

Setelah introduksi selesai, maka tarian dilanjutkan dengan gerakan masinpanca, yaitu para penari bertemu untuk mencari pasangan masing-masing sambil menyanyikan lagu yang menceritakan indahnya pertemuan tersebut. Kemudian, penari pria akan membuat gerakan-gerakan yang seakan merayu penari wanita. Gerakan ini disebut mencolodi. Dalam mencolodi ini lagu yang dibawakan syairnya menceritakan bahwa pertemuan antara penari pria dan wanita melambangkan persatuan di antara mereka.

Setelah gerakan moncoldi selesai, maka dilanjutkan dengan gerakan mompalakanamo dan mosangko lima. Pada gerakan mompalakanamo penari dalam posisi berhadapan sambil menyanyikan syair yang menceritakan pertemuan ini sangat indah, berkesan dan tak dapat dilupakan. Sedangkan, gerakan selanjutnya yaitu mosangko lima, penari pria menyematkan seuntai kalung kepada penari wanita dan diteruskan dengan berjabat tangan sebaga ungkapan eratnya persatuan. Kemudian, dilanjutkan dengan ucapan selamat tinggal yang ditandai dengan lambaian tangan. Pada masa Orde Baru, saat melambaikan tangan tersebut digunakan juga untuk menyampaikan pesan pemerintah kepada para penonton, yang berisi tentang ajakan untuk mensukseskan pembangunan di segala bidang

Tari DERO

Kesenian tradisional Modero, tarian yang dibawakan oleh golongan tua dan muda pada waktu pesta panen (vunja). Tarian ini ditarikan di tengah sawah, biasanya sampai pagi hari. Tujuan dari tarian ini merupakan ungkapan rasa terima kasih atas keberhasilan panen, sekaligus merupakan hiburan bagi para petani setelah bekerja keras.

Selanjutnya untuk Vaino, merupakan pembacaan syair-syair yang dibawakan secara bersahut-sahutan. Biasanya dilakukan pada waktu pesta kedukaan, yaitu di antara malam-malam dari hari ke- 3 sampai hari ke- 40 setelah kematian.

Sedangkan Dadendate, dapat dikategorikan sebagai seni suara, berupa nyanyian yang dilagukan semalam suntuk oleh seorang pria dan seorang wanita secara bergantian dengan iringan alat musik gambus. Syair yang dinyanyikan berisikan sindiran yang sifatnya membangun. Kesenian ini pada umunmya digemari oleh semua lapisan umur dalam masyarakat.

Untuk kesenian tradisional Kakula, yaitu sejenis kesenian yang menggunakan seperangkat alat musik, terdiri dari 15 buah kakula, 2 buah tambur, dan sebuah gong.
Untuk jenis tarian yang disuguhkan untuk menyambut tamu-tamu terhormat, yang diakhiri dengan menaburkan bunga kepada para tamu sering dinamai tarian . Lumense dan Peule Cinde
Mamosa, merupakan tarian perang yang dibawakan oleh seorang penari pria dengan membawa parang dan perisai kayu, yang ditarikan dengan gerakan melompat-lompat seperti menangkis serangan. Tarian ini diiringi alat musik gendang dan gong.

Sedanngkan Morego, sejenis tarian untuk menyambut kepulangan para pahlawan dari medan pertempuran dengan membawa kemenangan. Sebelum tarian ini ditarikan, harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu seperti meminta restu kepada pemangku adat, kemudian mencari wanita pasangan menari yang belum menikah.

Selanjutnya, Pajoge, merupakan tarian yang berasal dari lingkungan istana, dan biasanya ditarikan pada waktu ada pesta pelantikan raja. Tarian ini merupakan hasil pengaruh unsur kesenian dari kebudayaan yang berkembang di Sulawesi Selatan. Para penarinya terdiri dari tujuh penari wanita dan seorang penari pria.

Balia, merupakan sejenis tarian yang berkaitan dengan kepercayaan animisme, yaitu pemujaan terhadap benda-benda keramat, khususnya yang berhubungan dengan pengobatan tradisional terhadap seseorang yang terkena pengaruh roh jahat.

Kalau dilihat dari kesenian tari, wilayah Sulawesi tengah akan kaya dengan seni budayanya. Hanya saja, cara untuk melestarikan serta mempertahankan serta mempromosikannya perlu mendapat perhatian secara maksimal dari pemerintah daerah (rstmopm).

Tari Pamonte

Tari Pomonte adalah salah satu tari daerah yang telah merakyat di Provinsi Sulawesi Tengah, yang merupakan simbol dan refleksi gerak dari salah satu kebiasaan gadis-gadis suku Kaili pada zaman dahulu dalam menuai padi, yang mana mayoritas penduduk suku Kaili adalah hidup bertani. Tari Pomonte telah dikenal sejak tahun 1957 yang di ciptakan oleh seorang seniman besar, putra asli Sulawesi tengah yaitu (alm) Hasan. M. Bahasyuan, beliau terinspirasi dari masyarakat Sulawesi Tengah yang agraris. Tari Pomonte melambangkan sifat gotong-royong dan memiliki daya komunikasi yang tinggi, hidup dan berkembang ditengah masyarakat yang telah menyatu dengan budaya masyarakat itu sendiri. Kata POMONTE berasal dari bahasa Kaili Tara ; - PO artinya = Pelaksana - MONTE artinya = Tuai (menuai) - POMONTE artinya = Penuai Tari Pomonte menggambarkan suatu kebiasaan para gadis-gadis suku Kaili di Sulawesi Tengah yang sedang menuai padi pada waktu panen tiba dengan penuh suka cita, yang dimulai dari menuai padi sampai dengan upacara kesyukuran terhadap sang Pencipta atas keberhasilan panen. Dan sebelum menuai setiap pekerjaan didahului oleh seorang Penghulu yang dalam bahasa Kaili disebut TADULAKO. TADULAKO pada tarian ini berperan sebagai pengantar rekan-rekannya mulai dari menuai, membawa padi kerumah, membawa padi ke lesung, menumbuk padi, menapis serta membawa beras ke rumah yang kemudian disusul dengan upacara selamatan yakni No’rano, Vunja, Meaju dan No’raego mpae yang merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan pada upacara panen suku Kaili di provinsi Sulawesi Tengah. Tari Pomonte memiliki daya pikat yang kuat karena dalam penampilannya mampu menimbulkan suasana gembira terhadap penonton, baik dalam gerak maupun lagu yang dinyanyikan dalam berhasa daerah yaitu bahasa Kaili, sehingga tari Pomonte dapat dimengerti langsung oleh yang menyaksikannya khususnya masyarakat di lembah Palu.

Kesenian di Sulawesi Tengah

Kesenian di Sulawesi Tengah

Apa tanggapan anda apa bila ada orang yang bertanya ; Kesenian itu penting buat kehidupan manusia ??
Postkan Komentar Anda Tentang Kesenian Ini !!!

Berbagai macam kesenian yang sampai sekarang masih digemari masyarakat, dan diselenggarakan pada waktu-waktu tertentu misalnya:

Modero; merupakan tarian yang dibawakan oleh golongan tua dan muda pada waktu pesta panen (vunja). Tarian ini ditarikan di tengah sawah, biasanya sampai pagi hari. Tujuan dari tarian ini merupakan ungkapan rasa terima kasih atas keberhasilan panen, sekaligus merupakan hiburan bagi para petani setelah bekerja keras.

Vaino, merupakan pembacaan syair-syair yang dibawakan secara bersahut-sahutan. Biasanya dilakukan pada waktu pesta kedukaan, yaitu di antara malam-malam dari hari ke- 3 sampai hari ke- 40 setelah kematian.

Dadendate, dapat dikategorikan sebagai seni suara, berupa nyanyian yang dilagukan semalam suntuk oleh seorang pria dan seorang wanita secara bergantian dengan iringan alat musik gambus. Syair yang dinyanyikan berisikan sindiran yang sifatnya membangun. Kesenian ini pada umunmya digemari oleh semua lapisan umur dalam masyarakat.

Kakula, yaitu sejenis kesenian yang menggunakan seperangkat alat musik, terdiri dari 15 buah kakula, 2 buah tambur, dan sebuah gong.

Lumense dan Peule Cinde, adalah jenis tarian untuk menyambut tamu-tamu terhormat, yang diakhiri dengan menaburkan bunga kepada para tamu tersebut.
Mamosa, merupakan tarian perang yang dibawakan oleh seorang penari pria dengan membawa parang dan perisai kayu, yang ditarikan dengan gerakan melompat-lompat seperti menangkis serangan. Tarian ini diiringi alat musik gendang dan gong.

Morego; sejenis tarian untuk menyambut kepulangan para pahlawan dari medan pertempuran dengan membawa kemenangan. Sebelum tarian ini ditarikan, harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu seperti meminta restu kepada pemangku adat, kemudian mencari wanita pasangan menari yang belum menikah.

Pajoge, merupakan tarian yang berasal dari lingkungan istana, dan biasanya ditarikan pada waktu ada pesta pelantikan raja. Tarian ini merupakan hasil pengaruh unsur kesenian dari kebudayaan yang berkembang di Sulawesi Selatan. Para penarinya terdiri dari tujuh penari wanita dan seorang penari pria.

Balia, merupakan sejenis tarian yang berkaitan dengan kepercayaan animisme, yaitu pemujaan terhadap benda-benda keramat, khususnya yang berhubungan dengan pengobatan tradisional terhadap seseorang yang terkena pengaruh roh jahat.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

PAKAIAN ADAT SULAWESI TENGAH

PAKAIAN ADAT SULAWESI TENGAH


PENDAHULUAN

A.  Latar belakang
Berdasarkan semboyan ‘ Bhinneka Tunggal Ika ‘ , maka bangsa Indonesia yang beraneka ragam budaya menyadari pentingnya persatuan bangsa, dengan arti bersatu tidak harus sama.
Bangsa Indonesia tidak ingin dan tidak akan menghilangkan perbedaan-perbedaan dikalangan bangsa Indonesia sendiri, tindakan menghilangkan perbedaan itu bertentangan dengan kodrat bangsa Indonesia, berusaha terus agar perbedaan tersebut mempersatukan bangsa kita dalam persamaan penuh, keserasian dan keselarasan.
Berangkat dari keaneka ragaman kita ciptakan persatuan dan kesatuan bangsa, keaneka ragaman budaya kita jadikan landasan pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa, keaneka ragaman budaya kita kembangkan agar tumbuh subur dan dapat memperkaya maupun memberi warna warni indahnya budaya bangsa.
Salah satu kebudayaan yang harus di perhatikan yaitu busana daerah. Karena itulah bentuk perbedaan fisik pada kebudayaan bangsa kita ini. Di jawa ada kebaya, di Sulawesi ada baju bodo, di nias pakaian adat dinamakan Baru Oholu untuk pakaian laki-laki dan Õröba Si’öli untuk pakaian perempuan, dan banyak lagi perbedaan nama maupun bentuk pada busana daerah di Indonesia ini.
Khususnya di makalah ini yang akan saya bahas yaitu mengenai busana daerah dari Sulawesi Tengah.

B.   Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah ciri spesifik dari busana daerah Sulawesi Tengah?
2.      Kain apakah yang di gunakan penduduk Sulawei tengah?
3.      Bagaimana perbedaan busana yang di kenakan sehari- hari dan busana saat upacara adat?
4.      bagaimana busana daerah yang di pakai untuk penduduk pria?


C.   Tujuan
1.      Mengetahui cirri khas dari busana daerah Sulawesi Tengah
2.      Mengetahuai kain yang khas di gunakan penduduk Sulawesi Tengah
3.      Mengetahui perbedaan busana yang di kenakan sehari- hari dan busana saat upacara adat
4.      Mengetahui busana daerah Sulawesi Tengah yang dipakai untuk kaum pria.




PEMBAHASAN

A. JENIS BUSANA DAERAH
I. Pakaian Adat Etnis Kaili Kota Palu
  1. Pakaian Adat Perempuan
    1. Baju Nggembe
      Baju Nggembe adalah busana yang dipakai oleh remaja putri untuk Upacara Adat atau pesta. Baju Nggembe berbentuk segi empat, berkerah bulat berlengan selebar kain, panjang blus sampai pinggang dan berbentuk longgar.
Baju Nggembe ini dilengkapi dengan penutup dada atau sampo dada dan memakai payet sebagai pemanis busana. Bagian bawah Baju Nggembe adalah sarung tenun Donggala yang berbenang emas atau dalam bahasa Kaili disebut dengan Buya Sabe Kumbaja.
    1. Cara Pemakaian Sarung. Mulanya hanya di kepit di pinggang dan ujung sarung terjuntai di pangkal tangan Ni Sakiki. Dalam perkembangannya pemakaian sarung Donggala dirubah dengan mengikat sarung dan kemudian disamping kiri atau kanan dilipat untuk memperindah serta memberi kebebasan bergerak bagi si pemakai.
    2. Assesoris
      - Anting-anting panjang atau Dali Taroe
      - Kalung beruntai atau Gemo
      - Gelang panjang atau Ponto Ndate
      - Pending atau Pende
Pende atau pending adalah ikat pinggang yang digunakan pada saat seseorang (perempuan) memainkan tarian khas Sulawesi Tengah. Ikat pinggang ini dahulu umumnya dibuat dari bahan emas atau perak dengan cara dicetak. Pada bagian dalam pende dibuat sebuah tempat untuk memasukkan tali pengikat kain yang berwarna kuning dan diberi hiasan. Saat ini, pende yang digunakan untuk menari bukan lagi dibuat dari emas atau perak melainkan ikat pinggang biasa yang diubah sedemikian rupa hingga menyerupai pende asli.

  1. Pakaian Adat Laki-laki
Baju Koje / Puruka Pajana
Pakaian ini terdiri dari 2 bagian yaitu Baju Koje dan Puruka Pajama. Baju Koje atau baju ceki adalah kemeja yang bagian keragnya tegak dan pas dileher, berlengan panjang, panjang kemeja sampai ke pinggul dan dipakai di atas celana.
Puruka Pajana atau celana sebatas lutut, modelnya ketat, namun killnya harus lebar agar mudah untuk duduk dan berjalan. Pakaian ini dilengkapi dengan sarung dipinggang, keris, serta sebagian kepala menggunakan destar atau siga.


II. Pakaian Adat Etnis Mori di Kab. Morowali
  1. Pakaian Adat Perempuan
    Blus lengan panjang atau bahasa Mori disebut dengan Lambu, berwarna merah dengan hiasan dan motif rantai berwama kuning. Rok panjang berwama merah atau hawu juga bermotif rantai berwama kuning. Pada bagian kepala, menggunakan mahkota atau pasapu.
Assesoris yang digunakan:
- Konde atau Pewutu Busoki
- Tusuk Konde atau Lansonggilo
- Anting-anting atau Tole-tole
- Kalung atau Enu-enu
- Gelang Tangan atau Mala
- Ban Pinggang atau Pebo’o
- Cincin atau Sinsi
  1. Pakaian Adat Laki-laki
    Kemeja lengan panjang atau bahasa Mori dengan sebutan Lambu, berwama merah dengan hiasan motif rantai berwama kuning. Celana panjang berwama merah atau Saluara. Pada bagian kepala menggunakan destar atau Bate. Perlengkapan pakaian pria berupa ban pinggang atau sulepe.


III. Pakaian Adat Etnis Toli-toli di Kab. Toli-Toli
Pakaian Adat Perempuan
  • Blus lengan pendek atau Badu yang pada bagian lengan terdapat lipatan-lipatan kecil, dihiasi manik-manik dan pita emas
  • Celana panjang atau Puyuka panjang dihiasi pita emas dan manik-manik
  • Sarung sebatas lutut atau Lipa
  • Selendang atau Silempang
  • Ban pinggang berwarna kuning
Assesoris yang digunakan:
  • Anting-anting panjang
  • Gelang panjang
  • Kalung panjang warna kuning
  • Kembang goyang

Pakaian Adat Laki-laki
  • Blus lengan panjang, leher tegak, dihiasi dengan pita emas dan manik-manik wama kuning
  • Celana panjang atau Puyuka panjang
  • Sarung sebatas lutut
  • Tutup kepala atau Songgo

IV. Pakaian Adat Etnis Saluan di Kab. Luwuk
  1. Pakaian Adat Perempuan
    • Blus atau pakaian wanita yang disebut dalarn bahasa Saluan adalah Pakean Nu’boune.
    • Rok panjang yang disebut dalam bahasa Saluan adalah Rok Mahantan
    • Perhiasan berbentuk bintang
Assesoris yang digunakan:
- Gelang atau Potto
- Kalung atau Kalong
- Sunting, anting atau Sunting, Jaling
- Selempang atau Salandoeng
Pakaian Adat Laki-laki
  • Kemeja pria yang disebut dalam bahasa Saluan adalah Pakean Nu’moane
  • Celana panjang yang disebut dalam bahasa Saluan adalah Koja
  • Penutup kepala/topi (Sungkup Nu’ubak)
  • Sarung pelengkap celana panjang (Lipa).
  •  Warna ciri khas : Kuning melambangkan Kayu Ulin.
  •  Pakaian dari kulit kayu Ivo
  •  Pakaian Adat
  •  Pakaian Pengantin



Bahan yang di gunakan untuk busana
Pakaian sehari-hari
Bahan-bahannya terdiri dari kulit kayu Nuru (pohon beringin), cara pembuatan kainnya dari kulit kayu yang bahannya dari kulit kayu Nunu. Cara pembuatannya adalah sebagai berikut:
Ø  Menguliti kayu Nunu sebagai sumber bahan.
Ø   Merebus kulit kayu tersebut sampai masak lalu di bungkus selama tiga hari.
Ø   Di cuci dengan air untuk membersihkan getahnya dan biasanya menggunakan pula abu dapur.
Ø  Kulit kayu tersebut di pukul dengan alat yang di sebut pola (bahannya dari batang enau) sampai mengembang dan melebar. Kemudian dipukul dengan alat yang bernama tinahi yang di buat dari batu yang agak kasar. Disini dapat disambung bahan yang satu dengan bahan yang lainnya agar menjadi lebar dan panjang, di susul dengan alat ike yang halus sampai bahan tersebut sudah menjadi sehelai kain yang panjangnya tiga sampai lima meter.
Ø   Setelah menjadi kain kemudian di gantung untuk di anginkan (nillave)
Ø   Sesudah kering dilipat untuk diratakan dengan pola tidak bergigi (niparondo) yaitu semacam setrika.
Pakaian upacara
Kalau pakaian sehari-hari terbuat dari kulit kayu Nunu (pohon beringin), maka khusus untuk pakaian upacara bahannya juga dibuat dari kulit kayu, tetapi kulit kayu dari kayu Ivo yang dapat menghasilkan kain kulit kayu yang lebih halus dan bermutu, dan lebih baik daripada yang terbuat dari kulit kayu Nunu. Kulit kayu Ivo setelah selesai pengolahannya menjadi kainyang warna dasarnya adalah putih. Cara pembuatanya sama dengan cara pembuatan kain kulit pohon Nunu.

 
B. BENTUK DASAR BUSANA
Berdasarkan cirri-ciri yang terdapat pada bentuk-bentuk dasar busana ,busana daerah Indonesia dapat di kelompokkan sebagai berikut:
1.      Kelompok celemek panggul
2.      Kelompok tunika(kelompok baju kurung)
3.      Kelompok kaftan(kelompok kebaya)
4.      Kelompok draperi

Busana adat Sulawesi Tengah yaitu baju ngggembe, lambu, badu dan blus yang di sebut nu’boune (untuk pakaian wanita) berdasarkan bentuknya tergolong dalam pengembagan kelompok tunika (kelompok baju kurung).
Bentuknya segiempat berupa kantung terbalik denagn lubang leher memanjang dari lipatan kebawah bagian muka. Dan bagian busana bawah menggunakan busana dengan bentuk dasar celemek panggul berupa sarung.
Sedangkan untuk busana pria memiliki bentuk dasar busana kaftan karena memiliki belahan di depan sampai bawah. Dan denab bawahan berupa celana.
Oleh karena itulah sekelumit dari harta bangsa kita yang harus kita lestarikan.


PENUTUP

Jenis busana daerah Indonesia beribu-ribu jumlahnya. Namun itulah yang menunjukan bahwa negeri kita ini memiliki banyak budaya
Dalam makalah ini telah di sebutkan berbagai macamjenis busana daerah di propinsi Sulawesi Tengah yang memiliki bentuk dasar busana tunika karena memiliki bentuk dasar seperti kantung terbalik.dengan bawahan celemek panggul berupa sarung. Sedangkan untuk busana pria memiliki bentuk dasar busana kaftan karena memiliki belahan di depan sampai bawah. Dan denab bawahan berupa celana.
Oleh karena itulah sekelumit dari harta bangsa kita yang harus kita lestarikan.

sumber:
Budparpora.wordpress.com
Id.wikipedia.org/wiki/sulawesi-Tengah
Bgo studio.wordpress.com/pakaian adat di Sulawesi Tengah

Tenun Donggala

Tenun Donggala



Banyak tokoh nasional hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah mengenakan kemeja terbuat kain tenun Donggala saat berkunjung ke Sulawesi Tengah.
Itu membuktikan bahwa kain tradisional dari Kabupaten Donggala itu telah dikenal secara nasional meski namanya tidak seharum batik yang telah ditetapkan menjadi kain busana nasional.
Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Ny Herawati Boediono saat berkunjung ke Kota Palu, Ibu Kota Sulawesi Tengah, April 2010, juga memuji keindahan kain tenun Donggala.
Ny Herawati Boediono saat melihat proses pembuatan tenun Donggala mengaku prosesnya terbilang rumit.
Ia berharap kain tenun Donggala dapat dijaga keberadaannya sebagai salah satu simbol kebudayaan Sulawesi Tengah.
Kain tenun Donggala telah ada sejak ratusan tahun silam. Kain yang dibuat dari mesin tenun sederhana itu memiliki motif beragam, antara lain motif bunga mawar, bunga anyelir, buya bomba subi kumbaja, bunga subi, kombinasi bunga subi dan bomba, buya bomba, dan buya subi kumbaja.





Nursalim, seorang pengrajin tenun asal Desa Watusampu, Kabupaten Donggala, mengatakan dahulu, kain atau sarung Donggala hanya boleh dikenakan pada acara perkawinan, sunatan dan upacara-upacara adat.
Bahkan, pada motif-motif tertentu seperti palaekat hanya boleh dikenakan raja atau kaum bangsawan.
Seiring perkembangan zaman, kain tenun Donggala banyak dimiliki oleh masyarakat umum dalam berbagai kesempatan resmi.
Untuk melestarikan kain tradisional ini, Pemerintah Kabupaten Donggala telah memiliki hak paten kain tenun Donggala.
Bahkan para pegawai negeri sipil (PNS) di kabupaten tertua di Sulawesi Tengah itu juga diwajibkan memakai tenun Donggala setiap akhir pekan.
Sejumlah tempat di kabupaten Donggala menjadi pusat pengrajin kain tersebut, seperti Desa Towale dan Watusampu di Kecamatan Banawa yang berjarak 40 kilometer dari Kota Palu.
Di pusat pengrajin itu terdapat ibu-ibu rumah tangga sedang menenun kain dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) terbuat dari kayu berukuran 2 x 1 meter.
ATBM itu dipenuhi dengan lilitan benang aneka warba. Cara menggerakkannya pun dilakukan dengan kaki yang menginjak pedal-pedal dari kayu, layaknya sedang mengayuh pedal mesin jahit.
Alat itu juga menggunakan sisir besi yang ada sejak turun-temurun.
Selain kain tenun Donggala, para penenun juga menghasilkan sarung Donggala dengan panjang dua meter dan lebar 60 centimeter.
Rata-rata para pengrajin itu membuat kain tenun dengan panjang mencapai empat meter.
Di Kota Palu juga terdapat pengrajin kain tenun Donggala yang sebagian besar berada di Jalan Mangga, Kecamatan Palu Barat.
Hadi, pedagang kain tenun Donggala, di Kota Palu mengatakan masyarakat minat masyarakat bertambah karena coraknya yang makin beragam.
“Kami berupaya selalu membuat motif tenun yang beragam sehingga konsumen terus menyukainya,” kata Hadi yang juga memiliki toko di Jalan Mangga.
Hadi yang juga pembuat kain tradisional ini mengatakan corak kain tenun Donggala sebelumnya kurang beragam sehingga kurang mendapat tempat di hati calon konsumen.
Menurutnya, kain tenun Donggala harus dilestarikan agar tetap ada dan dibanggakan oleh masyarakat Sulawesi Tengah.
“Meski banyak motif modern yang penting tidak meninggalkan kesan tradisionalnya,” kata Hadi yang mendapat ilmu membuat kain tenun Donggala dari kedua orangtuanya.
Ia menyebutkan harga kain tenun Donggala beragam, mulai Rp300.000,00 hingga Rp700.000,00 tergantung tingkat kesulitan pembuatannya.
Satu lembar kain Donggala bisa dibuat selama satu bulan. Jika motifnya sulit, bisa membutuhkan pengerjaan selama hingga dua bulan.
Hadi sendiri mengaku sudah menjadi pengrajin kain tenun Donggala sejak 1982. Dia meneruskan usaha orangtuanya.
Hadi mengaku, kainnya terjual sebanyak enam hingga delapan lembar per bulan kepada pembeli yang biasanya berasal dari luar kota.
Kain tenun Donggala sering dipamerkan dalam ajang promosi baik di kota-kota besar di Indonesia hingga ke luar negeri.
Pemerintah Sulawesi Tengah sendiri menjadikan kain tenun Donggala sebagai salah satu suvenir wajib untuk tamu pemerintahan, seperti menteri, gubernur hingga Presiden SBY pernah mendapat hadiah kain tenun Donggala.
Khas Sulawesi Tengah
Di Sulawesi Tengah sendiri terdapat sejumlah kain tradisional yang juga menjadi warisan budaya dan bisa menjadi cindera mata istimewa.
Kain tradisonal itu, antara lain batik bomba, kain kulit kayu, dan kain adat Mbesa yang terbuat dari serat buah nanas.
Batik Bomba adalah kain khas Kota Palu. Batik ini memiliki beragam motif. Motif paling banyak disenangi konsumen adalah bunga cengkeh dan sambulugana.
Sementara kain kulit kayu berasal dari Kabupaten Sigi itu terbuat dari kulit pohon Beringin (ficus benjamina) dan pohon Malo (ficus sp).
Kulit kayu sepanjang sekitar 1,5 meter dan lebar 10 centimeter itu dipukul-pukul dengan alat pemukul yang dalam bahasa setempat disebut batu ike secara merata di atas papan kayu.
Setelah mencapai lebar yang diinginkan, kain tersebut dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. “Kalau kena sinar matahari langsung, maka akan cepat rusak,” kata Farida, pengrajin kain kulit kayu asal Desa Pandere, Kabupaten Sigi.
Kain kulit kayu biasanya dibuat baju lengan pendek, celana pendek, serta penutup kepala.
Pakaian kulit kayu itu pada umumnya berwarna coklat, sesuai aslinya, dan tidak bermotif. Sebagian lainnya berwarna hitam karena direndam lumpur hitam selama beberapa hari.
Farida mengatakan, kain kulit kayu 2×1 meter dihargai Rp200 ribu, sedangkan pakaian yang sudah jadi dihargai Rp100 ribu.
Kain itu tidak diperuntukkan untuk busana sehari-hari, hanya untuk upacara adat dan menyambut tamu.
Selanjutnya, kain Mbesa yang terbuat dari serat buah nanas. Kain ini biasanya bermotif orang-orangan dan tumpal.
Kain yang berasal dari Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, ini dieruntukkan acara adat seperti upacara tanggal gigi dan upacara menyambut kelahiran anak.
Dari beragam kain tradisional itu, kain tenun seolah menjadi primadona bagi para pencari oleh-oleh dari Sulawesi Tengah.
Pemerintah Sulawesi Tengah sendiri terus berupaya untuk meningkatkan pengenalan dan pemasaran kain tenun Donggala di tengah gempuran batik yang tidak pernah surut.
Bahkan kain batik sangat mudah ditemui di pelosok-pelosok daerah di provinsi ini, harganya pun lebih murah. Selembar kain tenun Donggala bisa untuk membeli 10 lembar kain batik.
Ini harus dipikirkan pemerintah setempat jika kain tenun Donggala ingin dikenal secara nasional atau internasional, seperti batik. Selamat Hari batik nasional. (Oleh Riski Maruto, www.kompas.com) – Foto: www.detik.travel

Sarung Donggala Asli

Sarung Donggala Kerajinan Tenun Istimewa


Sarung Donggala merupakan kerajinan tradisional masyarakat Donggala yang sangat populer, bukan hanya dikalangan masyarakat Sulawesi Tengah namun juga hingga daerah lainnya, kerajinan ini telah secara turun temurun diwariskan masyarakat donggala.
Sarung tenunan tradisional ini sangat istimewa, dibuat dari bahan serat sutera alami yang dibuat dalam berbagai warna dan motif yang sangat menarik dan khas. Ditenun oleh tangan-tangan terampil perempuan di desa-desa di wilayah Donggala dengan menggunakan alat tradisional yang dalam bahasa setempat disebut balida.
Kerajinan tenun ini hingga saat ini masih terdapat diberbagai wilayah di Donggala, diantaranya di Kecamatan Banawa, Banawa Tengah, Banawa Selatan, Tavaili, dan Labuan. Setiap daerah memiliki motif dan corak tertentu. Beberapa motif yang sangat popular diantaranya, bomba, bunga mawar, kamboja, anyelir, dan bunga subi. Namun yang paling baik dan bagus coraknya adalah Motif Bunga Subi karena terdapat corak benang emasnya.
Kerajinan ini telah dilakukan oleh masyarakat Donggala sejak dahulu kala, dilakukan oleh kaum perempuan di desa-desa di saat senggang seusai mengerjakan tugas rumah tangga, selain untuk menambah penghasilan keluarga juga untuk kelangsungan budaya setempat. Untuk memperolehnya anda tidak perlu bersusah payah, saat ini telah banyak gerai yang menawarkan sarung donggala, bahkan diantaranya ada yang telah membuka online store, yang memungkinkan anda membeli sarung ini secara online. Untuk melestarikan budaya ini, Pemerintah Kabupaten Donggala, telah menerbitkan peraturan daerah tentang tenun Donggala. Namun yang terpenting adalah mempromosikan produk kerajinan ini dan membuka pasar yang lebih luas. 

Oleh karena itu,   

Kami melayani pembelian dan pemesanan sarung sutera donggala dari seluruh wilayah di Indonesia maupun Luar Negeri baik dalam jumlah besar maupun satuan.
produk kami dijamin keasliannya,sarung sutera donggala hasil kerajinan perempuan donggala di pedesaan, ditenun secara tradisonal dengan teliti. tersedia dalam beberapa pilihan warna dan motif.


Profil Sarung Donggala

Sarung Donggala adalah kain tenun khas daerah Donggala , yang disebut Buya Sabe
Bunyi hentakan balida yang bertemu dengan pasak alat tenun tradisional adalah bunyi suara khas Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Donggala. Balida adalah sebuah kayu ulinatau ebony panjang yang menjadi pemberat ditengah lipatan kain tenun saat penenun memasukkan benang-benang.
Sumber langsung dari Pengrajin Tenun Donggala

Sarung Donggala Buya Sabe atau Sarung Donggala, yang bahan bakunya benang sutra. Dibuat oleh para perempuan paruh baya berusia 50 – 60 tahun dan gadis remaja berusia 12-20 tahun.
Coraknya beragam. Antara lain, kain palekat garusu, buya bomba, buya sabe, kombinasi bomba dan sabe.Corak Buya bomba yang paling sulit, dapat membutuhkan waktu pengerjaan hingga dua bulan. Berbeda dengan corak lainnya hanya minggu saja.Sarung donggala ini sangat layak dan sesuai digunakan dengan menggunakan kebaya, perpaduan yang serasi dan menarik dipandang mata.
Tenun Buya Sabe bisa ditenun di sepanjang Desa Limboro, Salu Bomba, Tosale, Towale dan Kolakola di sebelah barat Kota Donggala Sulawesi Tengah.

Beberapa motif yang kami sediakan,

Sumber langsung dari Pengrajin Tenun Donggala

Harga yang kami Tawarkan :
Sarung Donggala motif bunga subi tanpa selendang    : Rp. 700.000,- 
Sarung Donggala motif bunga subi dengan selendang  : Rp. 750.000,-
Harga ini belum termasuk dengan Ongkos Kirim (ONGKIR), Ongkir disesuaikan berdasarkan pengiriman Standar Nasional melalui JNE.

Segeralah hubungi kami... Dijamin Keasliannya... 
Untuk pemesanan dapat menghubungi kami >>>>> 
Dimisril adalah singkatan dari nama kami berdua (Dimas dan Rilda)
Kami tinggal di Jl. Gelatik II Nomor 26 Palu (Sulawesi Tengah),
Telpon Rumah (0451) 483018
HP. Dimas (082194878992)
HP. Rilda (082197003931)
Pin BB. 27B2487A
Pin BB. 276B6A06


Salam Hormat dari kami,


          DIMISRIL




Thursday, August 30, 2012

Tertarik!!!

Tertarik!!!

Assalamu 'ALaikum War. Wab.
Salam Sejahtera Bagi Kita Semua.

Kami memberitahukan kepada para pengunjung, segala sesuatu yang dimuat dalam Blog ini merupakan barang yang dapat dipesan dan dimiliki bagi para Pengunjung. Jika berminat dapat memesan dengan menuliskan komentar pada bagian bawah artikel.

Semoga apa yang kami tawarkan dapat menambah cita rasa makan, hasana khas suku Kaili Kota Palu dan tentunya bagi kami takkan mengecewakan yang memilikinya.

Terima kasih.

Wassalam.

DIMISRIL

Kerajinan Kayu Ebony

Kerajinan Tradisional Kayu Ebony

Kayu Eboni (Diospyros celebica Back) atau yang lebih dikenal dengan kayu Hitam adalah salah satu jenis kayu spesifik (asli) Sulawesi yang termasuk jenis kayu mewah (fancy wood) yang tumbuh tersebar di Sulawesi terutama Sulawesi Tengah (Kabupaten Parigi,Poso, Donggala,Toli-Toli, Kolonodale dan Luwuk), Sulawesi Selatan (Kabupaten Maros, Barru, Luwu dan Mamuju) dan Sulawesi Utara (Kabupaten Minahas dan Bolaang Mongndow).

Eboni merupakan salah satu komoditas ekspor andalan Sulawesi Tengah sejak tahun 1970-an.Namun sejak keluarnya kebijakan larangan ekspor kayu bulat pada tahun 1990, maka ekspor kayu Eboni beralih dari log menjadi balok kayu dengan ukuran tertentu.
Kerajinan Tradisional Kayu Ebony
Kerajinan Tradisional Kayu Ebony
Kayu hitam Sulawesi terutama digunakan untuk furniture mahal, ukir-ukiran dan patung, alat musik (misalnya gitar dan piano), tongkat, dan kotak perhiasan. Kayu hitam Sulawesi paling banyak terdapat di Kabupaten Poso dan termasuk jenis kayu yang paling mahal.

Perajin ebony di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) dalam kurun setahun belakangan mengalami kesulitan untuk mendapatkan bahan baku untuk pembuatan cenderamata dan meubel berbahan baku kayu ebony.

Kualitas kayu eboni untuk kerajinan memang harus memenuhi syarat.Kayu eboni yang biasa diambil untuk kerajinan harus berusia 200 tahun dan memiliki diameter seperti kayu jati.

Kayu ebony ini, khususnya yang hitam seluruhnya, dipercaya bertuah menangkal roh jahat dan menciptakan suasana ketentraman. Ruang tamu yang diberi hiasan kayu ebony akan terasa teduh dan damai sehingga kerasan tinggal diruang tersebut.
Kerajinan Tradisional Kayu Ebony
Kerajinan Tradisional Kayu Ebony
Keberadaan kayu eboni dewasa ini sangat memprihatinkan, karena permintaan akan kebutuhan kayu eboni yang tidak diimbangi dengan keberhasilan budidaya menyebabkan populasi di alam jenis kayu ini banyak mengalami tekanan baik dari segi penyebaran maupun potensinya. Hal ini disebabkan oleh tingginya nilai ekonomi sehingga jenis ini mengalami tekanan ekploitas secara sangat intensif.

Karena laju penurunan populasi yang sangat cepat inilah maka jenis ini oleh World Conservation Union (WCN) yaitu lembaga yang bergerak dalam bidang konservasi sumberdaya alam global dan untuk spesies, lembaga ini mengeluarkan daftar tentang jenis-jenis flora maupun fauna yang terancam kepunahan. Dalam 2000 WCN Red List of Threatened Species, Eboni (Diospyros celebica Bakh) termasuk kategori Vulnerable (batas resiko tinggi punah di alam/rentan terhadap eksploitasi.